FF EXO : The Tree of Life & The 12 Forces (Chapter 1)

Poster The Tree Of Life & The 12 Forces

FF EXO : The Tree of Life & The 12 Forces (Chapter 1)

FF ini sangat terinspirasi dari MV sekaligus konsep yang luar biasa dari boyband EXO. Author bener-bener tertantang untuk ngebuat FF bergenre fantasy yang satu ini. Karena selain konsep fantasy yang sudah ada, author juga dituntut harus bisa ‘menyambungkan’ cerita antara imajinasi author sama cerita yang ada di MV. So! Wish you like it ^^

NB : Sebelumnya, author pengen ngasih tau kalau setting waktu disini adalah tahun 2012. Dimana pada waktu itu boyband EXO baru debut. Dan pada cerita ini, pada tahun tersebutlah mereka di pertemukan.

Sekali lagi, ini adalah 100% hasil pemikiran & imajinasi author. Maaf jika ada persamaan nama, judul maupun setting, karena semua itu hanyalah kebetulan. Arasseo?

*Comment sangat dibutuhkan

Warning! Typo bertebaran dimana-mana.

Tittle : The Tree of Life & The 12 Forces
Author : LeeTa
Genre : Fantasy, Friendship, Drama, Family, Romance, etc.
Cast : 12 Member EXO

Summary :
“Dan ketika ke 12 Ksatria berkumpul. Itulah saat dimana mereka berubah menjadi Legends seutuhnya dan kedua bagian sang pohon kehidupan kembali bersatu.”

~^^Happy Reading^^~

Prologue :

“When the skies and the ground were one of legends, through their twelve forces, nurtured the tree of life. An eye of red forces created the evil which covered the heart of tree of life and the heart slowly grew dry. To attend to an embrace the heart of tree of life, the legends hereby divide the tree in half and hide each side. Hence, time is overturned and space turns askew. The twelve forces divide into two and create two suns that look alike. Into two world that seem alike, the legends travel apart. The legends shall now see the same sky but will stand on different ground. Shall stand on the same ground but shall see different sky. The day the ground beget a single file before one sky in two worlds that seem alike, the legends will greet each other. The day the red forces purify and the twelve forces reunite into one perfect root, a new world shall open up!”

Diceritakan dalam bahasa author:

“Dahulu kala, di ceritakan dalam sebuah legenda mengenai langit dan bumi. terdapat dua belas Legends dengan dua belas kekuatan alam unsur kehidupan manusia, bersama-sama mereka memelihara dan menjaga sang pohon kehidupan. Mereka hidup berdampingan satu sama lain dengan baik, rukun serta damai. Tetapi, ada sebuah pihak dimana mereka iri dengan kekuatan serta kedamaian kedua-belas Legends. Dari negeri kegelapan yang telah lama terlupakan, ada sebuah misi jahat untuk menghancurkan kedamaian itu. Mereka mengutus kegelapan untuk menyelimuti sang pohon kehidupan sampai hatinya lama kelama’an mengering. Untuk menyelamatkan sang pohon kehidupan, kedua belas Legends sepakat untuk membagi sang pohon kehidupan menjadi dua bagian dan menyembunyikan salah satu bagiannya. Dan itu membuat waktu menjadi jungkirbalik, alam semesta menjadi miring, kacau dan gila. Kedua-belas legends terbagi menjadi dua dan tercipta dua matahari yang serupa. Pada dua dunia yang berbeda namun terlihat sama, para Legends harus menjalani perjalanan secara terpisah. Mereka dapat melihat satu langit yang sama tetapi berdiri di tanah yang berbeda, dapat berdiri di tanah yang sama tetapi melihat langit yang berbeda… sampai di suatu saat, pada hari dimana sebelum kedua langit tampak serupa. Sang tanah membuka sebuah catatan abadi yang begitu lama terabaikan. Hari dimana kegelapan akan dimurnikan, dan kedua-belas Legends beserta kekuatannya akan kembali bersatu pada satu waktu dan tempat yang sempurna. Dan dunia yang baru dengan kedamaian yang menyertainya akan segera terwujud!”

Sebuah ramalan kuno menyebutkan…

“…akan muncul dua belas ksatria berketurunan serta berasal dari bumi timur akan manjadi titisan para Legends beserta kedua-belas kekuatannya. Seperti kehendak dewa, mereka dipilih dari sebelum mereka berada di kandungan sang ibu. Dan segera setelah melihat dunia (dilahirkan) mereka akan mendapatkan kekuatan mereka masing-masing. Bagi mereka yang sadar, akan segera mencari satu sama lain. Sedangkan yang tidak, akan berusaha menyangkalnya. Dan disaat kedua belas ksatria itu berkumpul menjadi satu, maka mereka akan berubah menjadi Legends seutuhnya. Mereka akan berkumpul, tepat pada hari yang sama ketika dahulu kala mereka menjadi terlupakan dan pada saatnya dibangkitkan lagi. Segera setelahnya, mereka akan membebaskan hati sang pohon kehidupan dari kegelapan…”

Sang raja kegelapan yang mendengar ramalan itu, segera memerintahkan para iblisnya untuk mencari keberadaan para kesatria dan mencoba menghalangi mereka membangkitkan sang pohon kehidupan. Sebelum para ksatria berubah menjadi Legends seutuhnya…

^^*_____*^^

*AUTHOR POV

Suara derap kaki nampaknya tak mengganggu keterlelapan Jae mi dari tidurnya. Dia begitu terlelap hingga tidak merasakan sesosok namja tinggi jangkung memasuki kamarnya entah darimana.
Namja itu duduk di ranjang sempit tempat tidurnya, tepat di samping dimana ia tidur. Sosok itu membelai halus rambut Jae mi yang berwarna gelap itu kemudian mengecup halus kening-nya.
Hembusan nafas yang hangat sempat Jae mi rasakan di wajahnya dan membuat ia terjengkat kaget dan membuka mata-nya… dia pun terbangun dan terduduk di tempat tidur-nya… memandang ke sekitar dan mengamati keseluruhan ruangan…

‘… ia tidak menemukan apapun.’

*^^_____^^*

“Diberitahukan kepada seluruh penumpang America Airlines Boing 747 dengan keberangkatan London, Inggris, segera memasuki pintu nomor 7 keberangkatan Internasional. sekali lagi, diberitahukan kepada seluruh penumpang…….,”

Beberapa kali pemberitahuan yang terdengar di seluruh penjuru bandara Internasional New York itu disampaikan berulang-ulang, teredam akan riuh-nya suara para penumpang yang turun dari pesawat ataupun para calon penumpang serta para kerabat yang mengantarkan atau menyambut mereka yang nampak memenuhi seluruh bagian bandara.

Ya, tidak seperti biasanya, hari ini suasana bandara begitu ramai karena bertepatan dengan berakhirnya libur panjang musim panas. Kim Suho, pemuda yang akan merayakan ulang tahun-nya yang ke 21 pada 21 Desember 2012 mendatang itu berjalan melewati antrian calon penumpang yang menuju arah dari kedatangan-nya, Soul, South Korea. Dia berjalan sembari menggendong sebuah ransel besar yang terlihat penuh serta menarik sebuah koper berwarna biru menuju deretan taxi yang berjajar di sepanjang jalan di area parkir bandara itu.

Ia berjalan ke salah satu taxi yang berada paling depan dan memberikan secarik kertas berisikan sebuah alamat kepada si sopir.

*^^______^^*

‘Ting Tong’

Terlihat sosok wanita paruh baya dengan wajah oriental membuka pintu rumah bergaya america classic berlantai dua itu dan tersenyum ramah kepada tamunya,

“Suho?!! Apa itu kau?!!”

“Omoni!!”

*SUHO POV

Aku melangkah maju memasuki rumah ini. Ku letakkan koper serta ranselku di ruang tamu dan segera mengikuti arah omoni menuju dapur disamping ruang makan disebelah sana. Rupanya ia sedang sibuk mencuci peralatan masak yang mungkin sempat ia tinggalkan untuk menemuiku tadi.

Aku mengambil tempat dan duduk di salah satu kursi di ruang makan itu.

“Suho-ya. Mianhae, omoni tidak bisa menjemputmu”

Aku tersentak lalu menoleh kearah omoni.

“Ah. Gwenchana omoni. Justru aku harus berterima kasih, karena omoni sudah mau menerimaku tinggal disini. Mianhamnida, merepotkan.”

“Pabo! Jangan bilang seperti itu. Omoni sangat senang akhirnya kamu bersedia pindah kemari. Dulu omoni sempat mengajakmu untuk tinggal di US dan bersekolah disini, tapi kamu tidak mau. Dan sekarang berubah pikiran.”

“Dulu waktu akan masuk SMA aku masih terlalu keci, lagipula eomma juga sendiri. Kakak sekolah di luar negeri, kalau aku ikut omoni dan bersekolah di luar negeri juga, kasihan eomma.”

“Ah, nde arasseo. Oh ya, bagaimana kabar eomma dan juga hyung-mu Siwon? Apakah dia sudah pulang dari studi-nya di London?”

“Nde, mereka berdua baik-baik saja, dan kakak sudah pulang. Kalau kakak belum pulang, mana mungkin aku bisa meninggalkan eomma sendirian di rumah?”

Aku beranjak dari dudukku dan menuju kulkas untuk mengambil minuman dingin disana. Kulihat sekilas kearah omoni yang masih berkutat dengan peralatan dapur yang kotor itu. Hhh… sedikit aneh rasanya. Mengingat keluarga ini termasuk keluarga mampu. Tetapi tidak memiliki asisten rumah tangga.

Ah, nde. Meskipun begitu aku tidak terlalu kaget. Aku sangat mengenal omoni-ku yang satu ini. Ia adalah sosok yang sangat mandiri.

Aku masih ingat sekali kejadian beberapa tahun silam sewaktu ia beserta suami dan seorang pitrinya masih tinggal di korea. Ia sangat bersikeras tidak membutuhkan asisten rumah tangga untuk dipekerjakan di rumahnya. Ia menganggap bahwa dirinya masih mampu untuk mengerjakan pekerja’an rumahnya sendirian. Hanya mengurusi keluarga kecil seperti ini, ia masih bisa mengatasinya.

‘Hhh… benar-benar sosok yang keras kepala’

Aku kembali ke meja makan dengan sekaleng minuman dingin ditanganku. Aku kembali terduduk dan meminumnya.

“YA! SUHOOO!!!!”

Aku tersedak kaget mendengar teriakan seorang yeoja memanggil namaku. Aku membetulkan posisi dudukku dan menoleh kearah sumber suara.

Belum sepenuhnya tersadar dari kekagetanku. Sesosok yeoja dengan keras menyeruak dan merengkuh tubuhku dengan kuat.

“Ja-jae mi?”

Ia melepaskan pelukannya dan menatap kearahku lekat.

“Ya! Aku kira kau datang minggu depan.”

Aku memicingkan mata kearahnya lalu beralih menatap omoni.

“Ya! Eomma tidak memberitahuku.”

Omoni terkekeh geli mendengar rengekan anaknya itu.

Ya. Lee Jae Mi. Ia adalah anak dari Lee Hyun Soo, omoni-ku dengan seorang pengusaha kaya di Amerika yang juga orang Korea, Lee Soo Man ahjussi. Lee Jae Mi adalah sosok yeoja cantik dengan keceriaan yang selalu menyelimuti dirinya. Tujuanku datang kesini adalah untuk meneruskan sekolahku di New York University, dan tentu saja yeoja ini akan bersekolah denganku karena kami seumuran.

Keluarga ini… ah, aku benar-benar sangat menyayangi mereka. Mereka sangat baik kepadaku dan juga eomma serta hyung-ku. Mereka pindah ke Amerika sekitar 5 tahun yang lalu karena usahanya di Amerika telah meraih sukses. Dulu, aku sempat ditawari untuk ikut pindah bersama mereka dan meneruskan sekolah disini. Tapi aku menolaknya. Bukan karena aku tidak mau… tapi… saat itu benar-benar saat yang sangat sulit bagiku.

Dulu, aku hanya tinggal berdua dengan eomma-ku. Setelah kematian appa akibat kanker paru-paru yang dideritanya, tiga bulan kemudian hyung-ku memutuskan untuk menerima tawaran beasiswa ke London. Meskipun sebelumnya ia sempat menolaknya karena ia tidak ingin jauh dari rumah. Tapi setelah kepergian appa, ia merasa bertanggung jawab atas kehidupanku dan juga eomma-ku. Dan memutuskan untuk mengambil tawaran itu dan berjanji akan menjadi orang yang sukses demi kami berdua. Aku… aku sangat bangga dengan hyung-ku.

Aku menatap yeoja yang ada di depanku saat ini. Dengan manisnya ia mengumbar senyuman kearahku dengan tatapan yang mengunci.

“Ya! Mengapa kau menatapku seperti itu? Apa kau tidak merindukanku?!!”

Sontak ekspressi-nya berubah. Ia terdiam dan mulai mengerucutkan bibirnya setelah mendengar perkataanku barusan.

“Wae? Ada apa?!!” aku heran dengan perubahan sikapnya.

“Suho-ah. Mianhae, aku harus pergi.”

Aku tersentak kaget mendengar ucapannya. Aku menatapnya lekat-lekat dan baru menyadari kalau penampilannya sedikit aneh, tidak biasa jika hanya untuk aktifitas sehari-hari dirumah. Bajunya rapi, memakai highheels, dan membawa sebuah tas kecil di tangannya.

“Mwo?!! Kau mau pergi? Ya! Apa kau benar-benar tidak merindukan sepupu-mu ini huh?!!”

Aku mendengus kesal. Cih! Bocah ini, benar-benar…

“Mianhae…”

Ia melihat jam tangannya sekilas lalu memeluk diriku dan menuju kearah eomma-nya.

“Mom. Aku pergi dulu, ne?”

Ia mengecup halus pipi omoni dan berlalu meninggalkan-ku dan menuju ke ruang tamu, kemudian lenyap dibalik pintu.

Aku kembali duduk. Kuteguk lagi minuman kaleng ditanganku…

‘Hhh… cuaca benar-benar panas.’

*klek… klek

Aku menoleh kearah omoni.

“Oe? Ada apa omoni?”

“Ini. Sepertinya kran air-nya mati lagi. Hhh… selalu saja seperti ini.”

Omoni berjalan menjauh menuju ruang tengah.

“Aku akan menelepon tukang ledeng langganan. Hhh… jangan kuatir, ini sudah biasa. Akhir-akhir ini hal seperti ini kerap terjadi.”

*AUTHOR POV

Suho tersenyum halus kearah Ny.Lee kemudian melempar pandang kearah lain.

‘Cressshhh’

Belum sampai Ny.Lee mengangkat gagang teleponnya, terlihat air kran sudah menyala sendiri. Dia pun berbalik arah kedapur dan melanjutkan mencuci piringnya.

“Mungkin tadi listrik-nya lagi konslet…” gumam Ny.Lee.

Suho yang mendengarnya hanya tersenyum penuh arti sembari meneguk habis minuman ditangannya.

*^^______^^*

TEEEETTT’

Bel masuk jam mata kuliah pertama di hari pertama masuk kuliah pun dimulai, tampak Suho dan Jae Mi yang baru memasuki kelas menuju ke deretan bangku paling depan dan mengambil posisi duduk saling bersebelahan.

Tampak sorang pemuda tinggi jangkung yang sedang asyik bercanda dengan temannya secara tidak sengaja menabrak bangku yang di tempati Suho dan menjatuhkan tas selempang warna biru milik-nya hingga terlihat beberapa buku tercecer di lantai. Pemuda itu respec langsung meminta maaf dan berjongkok untuk mengambil buku-buku Suho yang tercecer itu. Suho pun bangkit dari tempat duduknya dan ikut membantu pemuda itu lalu memasukkan buku-bukunya kedalam tas selempang-nya.

Mereka berdua kembali berdiri dan saling berhadapan.

“Emm… Sorry. Are you okay?!!”

“Eh. Yea… I’m okay”

Pemuda ini tampak memperhatikan Suho dengan lekat. Membuat Suho sedikit salah tingkah.

“Emm… Apa kau orang Korea?”

Suho terperanjat kaget. Matanya membulat heboh kearah pamuda itu.

“Mwo?!!! Dariman kau tau?”

“Hwaaaah!!! Jadi kau benar-benar orang Korea?!!” teriaknya girang.

Suho sedikit mengerutkan dahi.

“Ya! Aku juga orang Korea. Emm… Perkenalkan, namaku Park Chanyeol”

Pemuda ini terlihat benar-benar senang sembari mengulurkan tangannya kearah Suho. Suho memicingkan matanya dan sekilas memperhatikan sosok namja dihadapannya ini.

“Aku Kim Suho”

Suho-pun tersenyum halus kearahnya lalu segera membalas jabat tangan namja itu.

‘DEGG’

Mereka berdua terpaku di tempat seakan membatu. Dirasakannya jantung yang begitu cepat berdetak dan seakan ada puluhan paku yang menancap-nancap di jantungnya. Dengan cepat Suho menekan dadanya dengan kuat. Ia merasakan nyeri di dada-nya yang amat sangat.

‘hwuussshhh’

“YA! Apa yang terjadi?!!”

Kedua pemuda itu tersentak dari keterpakuannya setelah mendengar teriakan Jae Mi.

Tampak asap mengepul keluar dari tangan mereka yang masih saling merekat satu sama lain. Sesaat mereka langsung memisahkan jabat tangan itu dan berusaha mengipas-ngipas asap yang sudah terlanjur pekat itu dengan kedua tangan mereka. Tapi hasilnya percuma saja, asap sudah mencapai langit-langit kelas dan masuk ke dalam sensor kebakaran. Seketika kelas beserta seluruh ruangan yang ada di kampus menjadi terhujani air dari sensor kebakaran yang dipasang di seluruh penjuru kampus. Alarm kebakaran-pun berbunyai. Sontak seluruh siswa berhamburan keluar gedung, termasuk Jae Mi yang secara tidak sengaja meninggalkan Suho yang masih bearada di kelas.

Tidak seperti yang lainnya, Suho dan Chanyeol masih berada di kelas dan masih saling terpaku satu sama lain, dan dengan sesaat air itu telah membasahi kuyup kedua pemuda itu.

Dengan keheningan yang masih menyelimuti keduanya, Suho berusaha berpikir dan mengumpulkan kembali kesadarannya.

Tidak lama kemudian, Ia berkedip halus kearah Chanyeol dan sesaat kemudian air yang mengguyur seluruh ruangan itu-pun berhenti mengalir seakan ada energy yang memerintahkannya untuk berhenti.

*^^_____^^*

*SUHO POV

Ku menatap kearah jam dinding diatas tempat tidurku. Hhh… sudah jam 1 malam. Tapi entah mengapa aku sama sekali tidak merasakan kantuk sedikitpun.

Aku menerawang ke langit-langit kamar bernuansa biru-ku. Mencoba mengingat-ingat kejadian tadi pagi.

“Hhh… apa yang terjadi?” aku mendesah pelan lalu menjatuhkan diriku keatas ranjang.

Kupaksakan mataku terpejam. Nihil. Aku sama sekali tidak mengantuk. Aku gelisah dalam tidurku. Mencari-cari posisi yang nyaman agar ku bisa terlelap… tapi tidak berhasil.

Aku terduduk dari tidurku dan mengacak rambutku kesal.

“Aiissshh… aku benar-benar sudah gila”

Aku melempar selimutku asal lalu menyeruak keluar kamar menuju dapur di lantai bawah.

Kuambil sekaleng minuman dingin dari dalam kulkas dan duduk di salah satu kursi di ruang makan. Ku pejamkan mataku, berusaha mencari titik focus pada kesadaranku yang belum sepenuhnya utuh. Sesekali kuteguk minuman yang ada di tanganku sembari menenangkan batinku yang sudah payah ini.

‘DEGG’

Mataku terbelalak sempurna dari keterpejamanku. Seketika kuremas dadaku yang terasa nyeri ini.

‘Ah. Sial… sakit sekali’

Jantungku berdegup kencang kelewat normal. Kurasakan darahku mendesir cepat serta keringat yang mulai bercucuran di area keningku.

‘Rasa ini… persis seperti yang kurasakan tadi pagi’

Kucoba mengumpulkan seluruh energiku dan menyeruak keluar menuju ruang tamu. Kusibak-kan asal korden jendela yang menjuntai panjang itu. Kutatap suasana luar rumah yang tampak sepi. Kumencari-cari sesuatu yang entah apa itu bentuknya yang bisa membuatku seperti ini. Mataku memicing, mencoba menerawang ke sekitar dan menatap jalanan kosong didepan sana. Aku tidak menemukan apapun.

Ku mendesah panjang. Lalu memutuskan untuk kembali ke kamarku di lantai atas.

Tanganku sudah berada pada gagang pintu kamarku dan hendak membukanya. Tapi seketika pandanganku teralihkan ketika mendapati sekilas bayangan sebuah sosok berada di kamar Jae Mi yang bersebelahan dengan kamarku.

“Apa jam segini dia masih belum tidur?”

Aku bermaksud masuk ke dalam kamarku dan mengacuhkannya. Tetapi pikiranku meracau dan beralih menatap pintu ruang kamar tidur Jae Mi lagi.

“Hhh…” Kumendesah pelan lalu kuputuskan untuk menghampiri kamar Jae Mi.

*klek

Tidak terkunci. Aku membuka perlahan pintu kayu ber-cat pink itu dengan hati-hati, dan ku benamkan kepalaku sedikit demi sedikit kedalam kamar gadis itu. Lampu kamarnya tidak dimatikan. Aku mencoba melihat keseluruh ruangan, tapi hanya menemukan Jae Mi yang sedang terlelap di atas ranjangnya. Kemudian ku beranikan diri untuk masuk dan berusaha mencari sosok orang yang bayangannya sempat ku lihat tadi.

‘Aneh…’ tidak ada siapapun.

*BUGG

“Aw! Appo…”

Aku meringis sembari memegangi kepalaku. Tak kusadari sebuah bantal mendarat keras ke kepalaku.

“Apa yang kau lakukan di kamarku huh?!!”

Aku terperanjat kaget ketika mandapati sosok Jae Mi yang kini sudah berdiri berkacak pinggang tertangkap oleh irisku.

“Eh. Mianhae, aku tadi…”

“Keluaaaarrr!!!”

Belum sempat ku menjelaskan, tubuhku sudah didorong kuat olehnya keluar kamar.

‘BRAKK’

Aku terjengkat kaget mendengar pintu kamarnya yang dibanting kasar tertutup.

“Hhh… dasar gadis itu.” Aku menggumam kesal lalu berlalu menuju kamarku.

Kubaringkan tubuhku diatas ranjang. Ku mencoba menarik napas dalam-dalam, berusaha mencari setitik ketenangan di dalamnya.

Mataku terbelalak sekali lagi. Ketika menyadari dadaku sudah tak tersa sakit. Ku sentuh dadaku dengan halus dan mencoba menenangkan diri…

“Hhh… oke. Tidak ada yang aneh.”

*^^_______^^*

Siang ini. Di jam istirahat. Kuputuskan untuk pergi ke kantin kampus bersama Jae Mi. kami mengambil tempat disalah satu sudut ruangan luas itu. Dari sini, aku dapat melihat pemandangan Washington Square Park beserta kegiatan mahasiswa yang memenuhinya. Ya, sebagai pusat kampus dari New York University ini, tempat itu memang tidak pernah sepi dari rutinitas para mahasiswanya.

Jae Mi pergi memesankan makanan untuk kami berdua. Sedangkan aku kembali berkutat dengan i-phone yang ada ditanganku.

‘DEGG’

Perasaan ini. Lagi-lagi… dadaku terasa nyeri. Aku bergerak gelisah kesana-kemari, mencoba mencari pijakan yang pas untuk menahan sakit pada jantungku ini.

‘Ah, sial. Entah berapa kali aku merasakan seperti ini. Tapi sakitnya tidak pernah membuatku terbiasa.’

Aku mengumpat dalam hati. Dengan masih mencoba menahan sakit di dadaku ini. Badanku mulai merinding, dan tanganku mulai mendingin.

‘BEGG’

Aku terjengkat kaget. Kurasakan sebuah tangan menepuk halus pundakku dari belakang. Aku menoleh dan mendapati sosok namja tersenyum lebar kearahku.

Masih dalam keterpakuanku. Namja ini duduk menghadapku diikuti oleh seorang namja lain yang juga ikut duduk di sebelahnya. Aku memandang bingung kearah mereka yang justru dibalas dengan senyum lebar yang terkembang dari sana. Jujur… aku belum pernah bertemu mereka. Tapi… entah mengapa, wajah keduanya tidak terlalu asing bagiku. Apa mungkin karena keduanya memiliki wajah asia sepertiku? Hhh… mungkin.

“Annyeonghaseo”

Mataku seketika membulat mendengar ucapan keduanya bersamaan.

“Eh? Annyeonghaseo… Emm, apakah aku mengenal kalian?”

Mereka berdua bertatap satu sama lain.

“Mungkin saat ini belum. Tapi setelah ini, kita akan sering bertemu.”

Namja yang satu ini. Hmm… sungguh percaya diri sekali.

Arasseo… kau pasti bingung dengan perkataanku barusan. Geurrae. Perkenalkan, namaku Byun Baekhyun.”

“Ah. Nde… Perkenalkan juga, namaku Xiumin.”

Aku masih mematung ditempat ketika tangan mereka terulur kepadaku. Aku pun membalas jabat tangan mereka. Entah mengapa… sesaat setelahnya, rasa nyeri pada dadaku menghilang. Yang ada hanya degup jantungku yang masih mengencang seperti tadi. aku kembali menyentuh dadaku halus. Mereka yang melihatnya saling bertatap dan melemparkan senyum.

“Aku Kim Suho.”

Aku membetulkan posisi dudukku lalu menatap mereka lagi.

“Emm… Kau tau? Kami berdua kembar.”

Aku menatap namja bernama Xiumin itu dengan sedikit memicingkan mata.

“Eh. Kau pasti mengira kalau kami gila. Karena wajah kami berdua sama sekali tidak mirip”

“Ya! Xiumin-ah. Jangan seperti itu. Terang saja dia bingung… oke, kami berdua memang tidak benar-benar saudara kandung. Kami kembar, tapi tidak benar-benar kembar…”

Aku semakin bingung dengan kedua namja ini. Hhh… benar-benar. Sebenarnya apa sih tujuan mereka?

“Baekhyunnie benar. Aku dari China.”

“Nde. Dan aku dari Korea”

“Kami menyebut diri kami kembar, karena kami lahir di waktu, hari, tanggal, bulan, dan tahun yang sama. Tapi tentunya… Emm… di tempat yang berbeda. Haha… kebetulan bukan?”

Kulihat namja bernama Bekhyun itu mengangguk cepat, setuju dengan perkataan namja yang satunya itu. Jujur, aku terkekeh geli melihat kelakuan kedua namja ini.

“Allright! Jadi kalian kembar, maksudku… kembar tapi bukan saudara. Ah anya… maksudku, berbeda orangtua tapi lahir bersamaan… ah… terserahlah! Yang pasti… kenapa kalian menceritakan ini kepadaku? Apakah aku juga kembaran kalian? Hahaha… bercanda!”

Aku kembali berkutat dengan i-phone ditanganku. Berusaha mengacuhkan mereka.

“Kami ingin mengundangmu di acara perayaan ulang tahun kami yang ke 21 tahun nanti…”

Aku menatap namja bernama Bekhyun di depanku ini.

“Mengundangku? Haha… kalian itu ada-ada saja. Bahkan kita baru bertemu. Tapi, baiklah, baiklah. Kita bisa menjadi teman yang baik. Ne? Hmm… kapan?”

Jujur. Kali ini aku benar-benar terkekeh geli melihat tingkah laku kedua namja ini.

“Emm… sekitar 5 bulan lagi”

“Mwo?!!… Bwahaha…”

Kali ini tawa ku pecah. Kusadari perutku mulai memanas akibat tawaku ini. Sungguh, aku tidak habis pikir dengan tingkah laku konyol dari kedua namja ini. Haha…

“5 bulan lagi? Dan kalian sudah mengundangku sekarang? Hahaha…”

Aku memandang sekilas kearah mereka dengan terus tertawa. Terlihat kedua namja itu saling bertukar pandang heran melihat tawaku. Mereka tidak lagi mengumbar senyum seperti tadi, yang ada hanya tatapan tajam kearahku… aku tidak memperdulikannya dan kembali berkutat dengan i-phone ditanganku.

“Hei, Kim Suho… Kami berusia 21 tahun di tanggal 21 Desember mendatang…”

*To Be Continue…

12 comments on “FF EXO : The Tree of Life & The 12 Forces (Chapter 1)

  1. hahaha..daebakk..baekhyun xiumin tingkah kalian lucu…..

    pantas tadi keluar api sama air kn chanyeol api suho air kn thor…

  2. wah… lg cr2 ff exo yg genre fantasi., eh ketemu ff ini.. kliatannya jalan crtny seru n mnrk, tntg 12 legends.. daebak,, btw siapa yg d kmr jae mi? kai oppa atau siapa?? pnsrn min

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s